Rokok kretek adalah
rokok yang menggunakan
tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus
cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek. Rokok kretek berbeda dengan rokok yang menggunakan
tembakau buatan. Jenis
cerutu
merupakan simbol rokok kretek yang luar biasa, semuanya alami tanpa ada
campuran apapun, dan pembuatannya tidak bisa menggunakan mesin. Masih
memanfaatkan tangan pengrajin. Ulasan tentang sejarah rokok kretek di
Indonesia bermula dari kota
Kudus.
Jenis
Ada Rokok Kretek non-filter dan dengan filter. Kretek yang non-filter
masih terbagi dari yang tingwe (kependekan dari bahasa Jawa,
ngelinting déwé
yang berarti melinting sendiri, untuk diartikan sebagai lintingan
tangan) tanpa saus tambahan, cerutu, klobot dan lintingan mesin dengan
tambahan saus cengkeh. Sedangkan kretek dengan filter berisi semacam
gabus yang berfungsi menyaring nikotin dari pembakaran tembakau dan
cengkeh.
Sejarah
Kisah kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal-usul yang
akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang hidup dikalangan para
pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan
Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir
abad ke-19. Awalnya, penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak
cengkeh. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkeh dan mencampurnya dengan
tembakau untuk dilinting menjadi
rokok.
[1]
Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari
melakukan modifikasi dengan mencampur cengkeh. Setelah rutin menghisap
rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan
ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan
"rokok obat" ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok
cengkeh. Lantaran ketika dihisap, cengkeh yang terbakar mengeluarkan
bunyi "keretek", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan "rokok
kretek". Awalnya, kretek ini dibungkus
klobot atau
daun jagung
kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa
selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal. Konon
Djamari meninggal pada
1890. Identitas dan asal-usulnya hingga kini masih samar. Hanya temuannya itu yang terus berkembang.
Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di
tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok
dimulai oleh Nitisemito pada
1906 dan pada
1908
usahanya resmi terdaftar dengan merek "Tjap Bal Tiga". Bisa dikatakan
langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek
di
Indonesia.
Menurut beberapa babad legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah
dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito
merintisnya. Tercatat dalam
Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh
Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan
Sultan Agung menjual rokok "
klobot"
(rokok kretek dengan bungkus daun jangung kering) yang disukai pembeli
terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
Awal usaha Kretek
Nitisemito seorang buta huruf, putra Ibu Markanah di desa Janggalan
dengan nama kecil Rusdi. Ayahnya, Haji Sulaiman adalah kepala desa
Janggalan. Pada usia 17 tahun, ia mengubah namanya menjadi Nitisemito.
Pada usia tersebut, ia merantau ke
Malang,
Jawa Timur untuk bekerja sebagai buruh jahit
pakaian.
Usaha ini berkembang sehingga ia mampu menjadi pengusaha konfeksi.
Namun beberapa tahun kemudian usaha ini kandas karena terlilit hutang.
Nitisemito pulang kampung dan memulai usahanya membuat minyak kelapa,
berdagang kerbau namun gagal. Ia kemudian bekerja menjadi kusir
dokar sambil berdagang tembakau. Saat itulah dia berkenalan dengan Mbok Nasilah, pedagang rokok klobot di Kudus.
Mbok Nasilah, yang juga dianggap sebagai penemu pertama rokok kretek, menemukan rokok kretek untuk menggantikan kebiasaan
nginang pada sekitar tahun
1870.
Di warungnya, yang kini menjadi toko kain Fahrida di Jalan Sunan Kudus,
Mbok nasilah menyuguhkan rokok temuannya untuk para kusir yang sering
mengunjungi warungnya. Kebiasaan
nginang yang sering dilakukan
para kusir mengakibatkan kotornya warung Mbok Nasilah, sehingga dengan
menyuguhkan rokok, ia berusaha agar warungnya tidak kotor. Pada awalnya
ia mencoba meracik rokok. Salah satunya dengan menambahkan cengkeh ke
tembakau. Campuran ini kemudian dibungkus dengan
klobot atau daun
jagung kering dan diikat dengan benang. Rokok ini disukai oleh para
kusir dokar dan pedagang keliling. Salah satu penggemarnya adalah
Nitisemito yang saat itu menjadi kusir.
Nitisemito lantas menikahi Nasilah dan mengembangkan usaha rokok
kreteknya menjadi mata dagangan utama. Usaha ini maju pesat. Nitisemito
memberi label rokoknya "
Rokok Tjap Kodok Mangan Ulo" (Rokok Cap Kodok makan Ular). Nama ini tidak membawa
hoki malah menjadi bahan tertawaan. Nitisemito lalu mengganti dengan
Tjap Bulatan Tiga. Lantaran gambar bulatan dalam kemasan mirip bola, merek ini kerap disebut
Bal Tiga. Julukan ini akhirnya menjadi merek resmi dengan tambahan Nitisemito (
Tjap Bal Tiga H.M. Nitisemito).
Bal Tiga resmi berdiri pada
1914 di
Desa Jati,
Kudus. Setelah 10 tahun beroperasi, Nitisemito mampu membangun pabrik
besar diatas lahan 6 hektar di Desa jati. Ketika itu, di Kudus telah
berdiri 12 perusahaan rokok besar, 16 perusahaan menengah, dan tujuh
pabrik rokok kecil (
gurem). Di antara pabrik besar itu adalah milik M. Atmowidjojo (merek
Goenoeng Kedoe),
H.M Muslich (merek Delima), H. Ali Asikin (merek Djangkar), Tjoa Khang
Hay (merek Trio), dan M. Sirin (merek Garbis & Manggis).
Sejarah mencatat Nitisemito mampu mengomandani 10.000 pekerja dan memproduksi 10 juta batang rokok per hari
1938. Kemudian untuk mengembangkan usahanya, ia menyewa tenaga pembukuan asal
Belanda. Pasaran produknya cukup luas, mencakup kota-kota di
Jawa,
Sumatera,
Sulawesi,
Kalimantan bahkan ke Negeri Belanda sendiri. Ia kreatif memasarkan produknya, misalnya dengan menyewa pesawat terbang
Fokker seharga 200
gulden saat itu untuk mempromosikan rokoknya ke
Bandung dan
Jakarta
Ambruknya rokok kretek Bal Tiga dan munculnya pesaing
Hampir semua pabrik itu kini telah tutup. Bal tiga ambruk karena
perselisihan di antara para ahli warisnya. Munculnya perusahaan rokok
lain seperti
Nojorono/
Clas Mild (
1930),
Djamboe Bol (
1937),
Djarum (
1951), dan
Sukun, semakin mempersempit pasar Bal Tiga ditambah dengan pecahnya
Perang Dunia II pada tahun
1942 di
Pasifik, masuknya tentara
Jepang, juga ikut memperburuk usaha Nitisemito. Banyak aset perusahaan yang disita. Pada tahun
1955, sisa kerajaan
kretek Nitisemito akhirnya dibagi rata pada ahli warisnya.
Ambruknya pasaran Bal Tiga disebut sebut juga karena berdirinya rokok
Minak Djinggo pada tahun
1930. Pemilik rokok ini,
Kho Djie Siong, adalah mantan agen Bal Tiga di
Pati,
Jawa Tengah.
Sewaktu masih bekerja pada Nitisemito, Kho Djie Siong banyak menarik
informasi rahasia racikan dan strategi dagang Bal Tiga dari M. Karmaen,
kawan sekolahnya di
HIS Semarang yang juga menantu Nitisemito.
Pada tahun
1930,
Minak Djinggo, yang penjualannya melesat cepat memindahkan markasnya ke
Kudus. untuk memperluas pasar, Kho Djie Siong meluncurkan produk baru,
Nojorono. Setelah Minak Djinggo, muncul beberapa perusahaan rokok lain
yang mampu bertahan hingga kini seperti rokok Djamboe Bol milik H.A.
Ma'roef, rokok Sukun milik M. Wartono dan Djarum yang didirikan
Oei Wie Gwan.
Perusahaan rokok kretek
Djarum berdiri pada
21 April 1951 dengan 10 pekerja.
Oei Wie Gwan, mantan agen rokok Minak Djinggo di
Jakarta ini, mengawali bisnisnya dengan memasok rokok untuk Dinas Perbekalan Angkatan Darat. Pada tahun
1955, Djarum mulai memperluas produksi dan pemasarannya. Produksinya makin besar setelah menggunakan
mesin pelinting dan pengolah tembakau pada tahun
1967.
Di era keemasan Minak Djinggo dan di ujung masa suram Bal Tiga, aroma bisnis kretek menjalar hingga ke luar Kudus. Banyak
juragan dan agen rokok bermunculan. Di
Magelang,
Solo dan
Yogyakarta, kebanyakan pabrik kretek membuat jenis
rokok klembak. Rokok ini berupa
oplosan tembakau, cengkeh dan
kemenyan.
Perkembangan industri kretek di pulau Jawa
Kretek juga merambah
Jawa Barat. Di daerah ini pasaran rokok kretek dirintis dengan keberadaan
rokok kawung, yakni kretek dengan pembungkus
daun aren. Pertama muncul di
Bandung pada tahun
1905, lalu menular ke
Garut dan
Tasikmalaya. Rokok jenis ini meredup ketika kretek Kudus menyusup melalui
Majalengka pada
1930-an, meski sempat muncul pabrik rokok kawung di
Ciledug Wetan.
Sedangkan di
Jawa Timur, industri rokok dimulai dari rumah tangga pada tahun
1913 yang dikenal dengan
Dji Sam Soe. Tonggak perkembangan kretek dimulai ketika pabrik-pabrik besar menggunakan mesin pelinting. Tercatat
PT Bentoel di
Malang yang berdiri pada tahun
1930 yang kedua memakai mesin pada tahun
1965 (setelah
Dji Sam Soe;
1960), mampu menghasilkan 6000 batang rokok per menit. PT
Gudang Garam,
Kediri dan PT HM Sampoerna tidak mau ketinggalan, begitu juga dengan PT Djarum, Djamboe Bol, Nojorono dan Sukun di Kudus.
Kini terdapat empat kota penting yang menggeliatkan industri kretek di Indonesia;
Kudus,
Kediri,
Surabaya dan
Malang. Industri rokok di kota ini baik
kelas kakap maupun
kelas gurem
memiliki pangsa pasar masing-masing. Semua terutapa pabrik rokok besar
telah mencatatkan sejarahnya sendiri. Begitu pula dengan Haji Djamari,
sang penemu kretek. Namun riwayat penemu kretek ini masih belum jelas.
Dan kisahnya hidupnya hanya dekrtahui di kalangan pekerja pabrik rokok
di Kudus.